Hari ini, hari jumat. Berarti hari ini si hidung munggil pasti akan
datang. Tepat dibawah pohon cery pasti
dia berteduh. Menunggu bus jurusan blok
M. Dengan sweater merahnya plus tas
ransel di punggungnya. Keliatan berat,
aku kira isinya baju- baju kotor yang selama seminggu belum di cuci (hehehehe). Di telingganya terpasang sepasang headset,
terlihat di bibir munggilnya menirukan lagu.
Dari raut wajahnya keliatannya kalo dia sedang gembira. Dan sudah dua bulan berjalan aku hanya mampu
melihat dari jauh. Kedai jus yang
berseberangan dengan tanaman cery adalah
saksi.
Hari-
hari berlalu, dan tiap jumat rutinitasku seperti biasa menunggu si hidung
munggil datang, dan yang menjadi temanku menunggu adalah segelas jus alpukat
atau jus mangga. Dan hari ini adalah
hari peratarunganku dengan nyaliku. Seberapa
kuatnya aku akan menaklukan kutukan si hidung munggil. Setiap mentatapnya selalu ada sesuatu yang
harus ditaklukan, dan aku selalu kalah sebelum berperang tapi tidak untuk sore
ini.
Ku
habiskan jus alpokat yang ada di depanku, dan ku menyebrang ke jalan troran,
dan hanya satu yang kutuju. Gadis yang berdiri di bawah pohon cery. Kali ini
dai tidak pake sweater warna merah.
Hanya pake kaos plus celana ¾, setelan sepatu skate. Rambutnya yang panjang tergerai kena angin
sore. Sungguh, jantung ini akan
berhenti. Jujur aku sudah amat dekat,
tapi kenapa mulut ini terkunci tanpa bisa terbuka, walau hanya sekedar menyapa
hai.
Mayangsari
berwarna biru langit sudah keliatan dari jauh, Oh Tuhan jangan dulu dia izinkan
untuk naik bis ini, batinku. Tapi apa
daya aku tak kuasa. Si gadis hidung munggil pilih untuk meninggalkanku sendiri
dibawah pohon cery ini.......
Sore
ini hujan, dan kau tidak ada disana.
Biasanya kau berdiri disana setiap sore di hari jumat. Apa karena hujan kau tidak datang. Pikiranku menerka- menerka ada apa dengan
dirimu si gadis hidung munggil?